nomor sembilan: Melepas rindu

Berlalu di batas waktumu
Berjalan di belakang kesadaranmu
Berlari menembus ruang
Tersenyum berjalan pulang

Waktu itu satu
Ruang itu satu
Rindu itu satu
Hati hanya satu
Pikiran pun satu
Tak mampu menyelipkan walau hanya satu
Tak kuasa membagi meskipun cuma satu
Khayalan boleh satu
Mimpi, harus seribu...

Di batas duka ia menangis
Tak benar-benar menangis
Di batas bahagia ia tertawa
Tak benar-benar bahagia
Semua hanya ungkapan sederhana
Yang mampu dilakukan
Yang tak bayak dipikirkan
Yang cukup menyenangkan...

Beribu kisah di bawah kesadaran
Memanen bunga di taman perasaan
Melupakan sejenak tentang perjalanan
Memuaskan tanpa keterbatasan
Hingga rindu pada kenyataan
Membawa langkah tanpa keraguan
Terjaga tanpa penyesalan
Karena rindu dapat kau lepaskan.


25032014 03:40

Dan kini aku ingin kamu pulang.

Hujan dan Rindu

Jika ada 1001 rindu
saat kutuliskan satu persatu seperti gerimis itu,
yang bernyanyi kala shubuh atau waktu-waktu yang berlalu,
memanjakan mata, ingin terbuka namun sayu
membuat tanah basah,
membasuh wajah rerumputan liar itu
daun di ranting itu
bunga-bunga yang dulu kau bilang indah kala siang itu.

Rindu itu turun seperti hujan kala suaranya hinggap di depan kamar
Kita tidak pernah bosan mendengarkan meski ia datang, lalu mengetuk pintu kamar setiap bulan.

Di langit ia mencemaskan saat menggantung di awan
yang selalu melukiskan wajahmu
Di bumi ia menyegarkan
menawarkan ketenangan dan menyuguhkan tarian riang penuh senyuman.

Rindu adalah siklus,
jika ada 1001 rindu,
satu telah kuberikan padamu
yang lain ingin kujadikan ruang siklus antara kita.

~Hujan dan Rindu~

.MFKBAKARFF


note:
Hujan seharian di Heidelberg, Jerman.
Kubuka lagi buku gajah milikku yang sengaja kuselipkan saat packing dari Indonesia bulan lalu. Kemudian kusadur satu puisi yang mewakili hari ini. Waktu boleh berjalan menjauh, tapi momen yang sama kejadiannya bisa terulang. Seperti halnya hujan hari ini. Menyenangkan sekali :D

:D

Mencari Bahagia

Ketika sedang lelah dengan paper dan serangkaian tekanan penelitian.
Kemudian ada percakapan random yang terbersit.

Gimana kalau bisa glundang-glundung aja di rumah.

Ngurus anak dan suami. Jadi istri sholihah, masak-masak di rumah yang enak-enak. Kayaknya bahagiaa. Hahaha.

Ah.

Bahagia itu relatif.
Kalau kerjaannya glundang-glundung juga lama-lama bisa bosen.

Biar bahagia? Jadi yang dinamis :) Apapun pekerjaannya.

sebuah bisik

Kapan sedih ini bisa berlalu dan pergi?

:')

bersabar, dan bersyukur: sebuah bisik.

desperado

terhenti

putus asa.



Merenung aku

Begitu relatifnya kebahagiaan.

Begitu tak berujungnya kepuasan.

Begitulah hati, yang dangkal dengan ke-syukuran.


Yang mengenal menjadi asing.

Yang berteman menjadi musuh.

Yang mencinta menjadi membenci.

Berputusnya silaturahim, berganti dendam dan rasa marah.

Menutup memori tentang apa yang telah diberi, apa yang telah dibagi.


Tentang waktu yang tak dapat kembali.

Tentang cerita yang berganti.

Tentang siklus hidup yang tak berhenti.




Aku,
merenungi
selusin penyesalan dalam kotak ketiadaan.








Peluk :)

Ketika merasa didekatkan dengan kebahagiaan yang amat sangat.
Kemudian harus merelakan, mengikhlaskan, jika ternyata kebahagiaan itu tak jadi dimiliki.

Kehidupan kembali pada titik yang rendah. 
Merasa terhempas jauh ke bawah.



Rasanya sulit sekali bangkit.
Tapi bukankah seharusnya tak boleh memberi ruang untuk keputus asaan?

Hidup sudah digariskan. Segala cobaan tidak akan melebihi dari kemampuan. Itu janji Allah. :)



Maka kini kurengkuh lagi keping-keping hati, kembali.
Satu persatu.

Menyelesaikan setahap demi setahap apa yang sudah menjadi amanah. 
Berusaha menjadi yang bertanggung jawab menggenapkan apa yang sudah di jalani, sembari merencanakan apa yang akan dihadapi berikutnya.

Allah tidak akan pernah salah memberi hambaNya sesuai porsinya masing-masing.


Ya Robbi, peluk aku. :)