Peluk :)

Ketika merasa didekatkan dengan kebahagiaan yang amat sangat.
Kemudian harus merelakan, mengikhlaskan, jika ternyata kebahagiaan itu tak jadi dimiliki.

Kehidupan kembali pada titik yang rendah. 
Merasa terhempas jauh ke bawah.



Rasanya sulit sekali bangkit.
Tapi bukankah seharusnya tak boleh memberi ruang untuk keputus asaan?

Hidup sudah digariskan. Segala cobaan tidak akan melebihi dari kemampuan. Itu janji Allah. :)



Maka kini kurengkuh lagi keping-keping hati, kembali.
Satu persatu.

Menyelesaikan setahap demi setahap apa yang sudah menjadi amanah. 
Berusaha menjadi yang bertanggung jawab menggenapkan apa yang sudah di jalani, sembari merencanakan apa yang akan dihadapi berikutnya.

Allah tidak akan pernah salah memberi hambaNya sesuai porsinya masing-masing.


Ya Robbi, peluk aku. :)




Tentang Mimisan

Pagi ini waktu hendak Sholat Subuh aku kaget karena sudah bertahun lamanya tidak lagi pernah mimisan. Terakhir kali seingat saya dua tahun lalu jika tidak salah saat capek ikut kepanitiaan di kampus. Alhamdulillah selama di Jerman ini selalu dikasih sehat dan kelancaran fisik. Dahulu sempat khawatir dengan berbagai macam hal, salah satunya mimisan jika berada di wilayah bersuhu dingin. Hal tersebut berhubung sewaktu aku masih anak-anak, mimisan sudah jadi peristiwa biasa. Terutama jika kecapekan main seharian dan kepanasan, kemudian pulang ke rumah dengan hidung berdarah-darah. Sering juga mimisan di tengah kemah pramuka atau sedang piknik ke daerah lain. Apalagi jika memang sedang sakit misalnya sedang demam, mimisan jadi lebih mudah terjadi tanpa diminta. Pernah juga mimisan gegara hidung tanpa sengaja keinjak oleh adik karena sedang bercanda.

Jika di Indonesia, mimisan diatasi dengan menggunakan daun sirih. Minyak atsiri dalam daun sirih yang nama kerennya adalah Piper betel ini memang mujarab untuk menghentikan pendarahan. Namun berhubung tanaman tropis tentu saja disini aku tidak akan bisa menemukannya. Untung saja pendarahannya cuma sedikit dan cepat berhenti setelah diseka dengan beberapa lembar tissue.


Ada banyak kemungkinan yang bisa jadi penyebab. Biasanya karena pembuluh darah di bagian hidung terlalu tipis. Mungkin juga terlalu lelah dalam beberapa hari ini, sehingga dilatasi pembuluh darahnya lebih dan akhirnya pecah. Mungkin juga karena suhu dingin, namun kemudian exclude karena suhu saat ini biasa saja kok. Anggap saja hanya butuh istirahat sedikit lebih. But all is good, all is fine. Alhamdulillah :D

Sebuah Gubug yang Sederhana Saja, Cinta.




Dear Cinta,

Untuk kehidupan kita di dunia ini.

Bangunkan untukku sebuah gubug, sederhana saja.
Karena katanya badai kan semakin kuat jika bangunan tinggi menjulang.

Cukuplah gubug untuk bernaung bagi kita berdua dan keluarga kita.

Bangunkan untukku sebuah gubug, berbahan yang mudah-mudah saja.
Karena jika ia sedikit rusak, sangguplah kita untuk membenahinya sendiri. Tak usah kita panggil orang lain untuk memperbaiki.

Cukuplah gubug untuk mengumpulkan raga dan hatinya.

Bangunkan aku sebuah gubug, tak usah yang bertangga.
Karena jika terjatuh, katanya akan sakit rasanya.

Cukuplah gubug untuk kita berkelakar dan bercanda dengan keluarga, mengumpulkan cerita-cerita.

Namun Cinta,

Perluaslah ladang di sekitar gubug kita.
Karena ku dengar, tak pernah ada batas dan pagarnya ladangmu, Cinta.
Biar jadi tempat kita berkarya, menumbuhkan bibit-bibit kebaikan di atas lahannya.

Hingga akhirnya, waktu yang berjalan bersama kita, membawa kita ke sebuah masa bagi kita memanen hasilnya. Menjadi bekal untuk kita berdua, dan keluarga kita untuk sebuah perjalanan yang abadi.

Menuju Surga.


:)

Dear Cinta,
semoga selalu mudah untuk kita membangunnya.


Heidelberg
17 Maret 2016


Winter Holiday 2015


Heidelberg, 6 Januari 2016

Terbangun kembali di Heidelberg pagi ini, ada perasaan yang aneh. Aku cari tahu perasaan itu apa. Memutar kembali jejak rekaman segala hal yang terjadi dua minggu di belakang, masih hangat dalam ingatan. Memulai perjalanan pergi ke Kota Aachen, bertemu dan berkumpul secara nyata dengan anggota whatsapp grup “Jalan-jalan penuh kenangan”. Luar biasa bagaimana teman-teman disana menyambut dan menjamuku yang berasal dari Heidelberg, juga mbak Hashlin yang datang jauh-jauh dari Kiel. Sharing kamar bersama, masak, dan makan pun dibagi. Bahkan ditengah liburan rasa laporan praktikumku (atau laporan praktikum rasa liburanku), mereka bisa mengerti dan paham bagaimana cara membuat liburan ini berkesan. Keliling kota Aachen, dan pergi ke dua Negara dalam satu minggu pertama itu. Kami ke Maastricht di Belanda, dan dua kota yang luar biasa indah di Belgia: Brussel dan Brugge. Makan setengah ayam di Chicken Pont juga bagian dari hal yang nggak akan aku temui di Heidelberg. Bang Fauzan, Mas Abduh, Zam, Uda Usman, Mas Galgil, dan Uni Nova, mahasiswa RWTH Aachen yang berbaik hati menampungku disana. Kemudian ditambah lagi Ihsan, Mbak Suchi, dan Bang Fadli yang berangkat dari Bonn untuk bergabung.

Berangkat berdelapan, tim rombongan kami ke Paris: Bang Fauzan, Ihsan, Zam, Bang Fadli, Uda Usman, Mbak Hashlin, Arin temanku dari Heidelberg, dan aku. Tak mengira sebelumnya kalau perjalanan ini bisa menjadi super menyenangkan karena teman-teman perjalanan yang lucu-lucu. Lima hari tinggal di Paris dan menikmati keindahannya terasa sangat cepat. Kaki-kaki yang terasa bengkak karena overdosis berjalan kesana kemari juga termaafkan karena kekonyolan dan cerita-cerita di sepanjang perjalanan. Bahkan cuaca di Paris yang menyambut kami dalam perjalanan disana pun seolah ikut-ikutan bahagia dan memberikan langit biru yang cerah, serta suhu yang tak begitu dingin untuk winter season. Berbagai objek wisata kami kunjungi. Menara Eiffel, Panteon, Luxemburg garden, Sacre coure, Louvre, Notra Dame, Arc de Triumph, Versailles castle. Malam pergantian tahun dari 2015 ke 2016 yang tanpa kembang api pun bukan jadi persoalan karena kebersamaan yang dibangun. Bagaimana kita selalu berhemat di tiap perjalanan dan berusaha cari makanan yang murah dan kenyang, bagaimana kita selalu menjaga dan mengingatkan barang bawaan masing-masing agar tak ada lagi kejadian kehilangan tas yang sempat mewarnai di awal liburan, bagaimana kita selalu sadar bahwa tiap momen ini harus diabadikan dalam ruangan abadi dengan foto-foto.

Meninggalkan Paris dengan 19 jam di Bus menuju Munich. Tak kalah seru disana. Keluarga besar FORMAL Jerman berkumpul. Bertemu lagi orang-orang yang pernah kutemui dan sementara berpisah kota: Ganda, Mas Dandy, Mas Dimas Yoga, Mbak Aulia, dan banyak lagi yang baru bertemu meski sudah satu grup whatsapp. Saling bertukar cerita tentang studi masing-masing. Masa-masa payah, susah, dan jatuh. Tak lupa juga berbagi bagaimana melewati berbagai permasalahan yang dating ketika studi. Kami merasa senasib, dan juga sepenanggungan. Sama-sama berjuang di perantauan. Membawa nama Negara Indonesia agar harum namanya dipandang dunia. Maka kami sadar bahwa kami harus saling menguatkan satu sama lainnya. Pertemuan ini terasa lengkap sekali dengan guyonan dari keluarga ini yang membuat hati merindu. Menikmati Kota Munich yang ramai, juga pergi ke kastil Neushwanstein di bawah bayangan pegunungan alpen yang cantik. Ditambah lagi, hujan salju yang menyambut kami menambah cerita tersendiri.

Hingga akhirnya, raga-raga ini harus terpisah kembali. Pulang ke kota perjuangan masing-masing. Aku menggenggam sebuah perasaan yang bermakna, sebuah kesan yang mendalam. Aku akhirnya tahu rasa itu apa. Rasa sayang, dan rindu yang berbaur, menunggu waktu untuk mempertemukan kita kembali di sebuah kesempatan yang lebih baik lagi nanti :’)






Menapaki Bumi-Mu yang lain



Ya Rabbi

Engkau izinkan aku untuk menapaki bumi-Mu yang lain.

Engkau peluk doaku dengan kuasa-Mu.

Jadikanlah aku hambaMu yang penuh syukur dan pandai berterimakasih.



Deutches Krebsforschungzentrum


Dear Allah.
Thank you very much for taking me to this place. 
I am so grateful to be here. 
It is all because of Your will.
 You will never burden a person beyond their ability to handle.
It is all Your love.

 

CAREER OPPORTUNITIES FOR PHARMACISTS AND THE CONTRIBUTION FOR PHARMACEUTICAL INDUSTRY DEVELOPMENT

Pharmacist is one of the strategic profession as it could have lots of choices for their future career. It could facilitates lots of roles and functions in some working areas, such as in clinical and communnity pharmacy, in the government and regulatory sectors, and also in industrial world. Therefore, it was not a surprise if the number of pharmacy scholar is increasing nowadays. In Indonesia, there are 63 pharmacy colleges which graduate more than 3.500 pharmacists in each years. This situation could enhance the number of pharmacist in Indonesia become 27.000 people and exceed the needs of pharmacist number in Indonesia. Thus, by the abundant number of pharmacist in Indonesia, pharmacist should be spread in various field and do their job optimally.
One of the sector which give lots of chance for pharmacist to be developed in their career is pharmaceutical industry. Based on the previous study, pharmaceutical industry is a kind of industry which has innovative and dynamic product development in order to fulfill the needs of the society. The research and development activity is very crucial and closely related to the needs of innovative products it has to produce. Therefore based on the data showed there are 8 pharmaceutical industries out of 20 industries which have the highest research funding, such as Novartis, Roche Holding, Pfizer, Merck, Johnson&Johnson, Glaxo Smith Kline, Astra Zeneca, and Sanofi (Bloomberg Data, 2013). Bloomsberg data showed that the products of pharmaceutical industry have higher value of innovation than the products from software and internet industry products, even from the automobile industry. This showed that pharmaceutical industry is a sector which is reliable and promising sector, especially for a pharmacist to be involved. 
Once the pharmacist involved in the pharmaceutical industry, they will have a wide opportunity to apply their knowledge during colleges. The pharmaceutical industry will need pharmacist which has clinical and practical knowledge especially for research and development of their product. The role of pharmacist are not only responsible for the invention of a new products, make the best formulation, but also the do the clinical trial, do the bioavailability and bioequivalency (BA/BE) screening, and control and assure the quality of a products based on the evidence based.
Pharmaceutical industry career also offer some chances for pharmacist to do the multidisciplinary work. As the pharmaceutical industry is closely related to wide-sector profession collaboration, it will give lots of opportunity for a pharmacist to growth lateral and upward. A pharmacist could be a medical communicator which provides evidence based information of a product for both the medical profession and also to the non medical profession. 
In order to support the commercial properties of a product, a pharmacist not only plays a role in analyzing the market condition in the past and in the future but also providing the sales material and a good product advertising. Being a pharmacist in pharmaceutical industry also could emphasize their career through the drug regulatory affair. It needs wide knowledge about the regulations, guidelines, policies, and precedents governing the discovery, development, manufacturing, governmental approval, commercial distribution, advertising and promotion of medicinal products. As the pharmaceutical industry also intensively regulated by the law and system, pharmacist are able to track the progress of a product and gather key learning from Health Authority interactions to guide the project team on how to file and conduct trials for a drug program, register a product and gain approval.
With a career in the pharmaceutical industry, a pharmacist has opportunity to make a significant contribution to the development and delivery of medicines to patients around the world. So, it has to be prepared as soon as possible.